Kamis, 16 Mei 2013

Kepribadian


MATA KULIAH TEORI KEPRIBADIAN
Learning Goals :
·         Mendefinisikan dan menjelaskan kepribadian dan Konsep-konsep yang berhubungan dengan Kepribadian
·         Mendefinisikan dan menjelaskan  teori serta beberapa konsep yang berkaitan dengan teori

A.    APAKAH YANG DI  MAKSUD  KEPRIBADIAN ?
1.      Tinjauan secara Etimologis
Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan  personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu persona, yang berarti topeng/masker dan personare, yang artinya menembus. Istilah topeng berkenaan dengan salah satu atribut yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para penonton.
Dari sejarah pengertian kata personality tersebut, kata persona yang semua berarti topeng, kemudian diartikan sebagai pemaiannya sendiri, yang memainkan peranan seperti digambarkan dalam topeng tersebut. Dan sekarang ini istilah personality oleh para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau untuk menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.
2.      Definisi-definisi Kepribadian
Banyak ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang mereka yakini dan focus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan demikian akan dijumpai banyak variasi definisi sebanyak ahli yang merumuskannya. Berikut ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian. Definisi  Kepribadian David Krech dan Richard S. Crutchfield dalam bukunya yang berjudul Elelemnts of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment.” (Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus)
Adolf Heuken S.J. dkk. menyatakan  “Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani,mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya,dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.
Sedangkan G. Allport menyatakan Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Organisasi dinamis” menunjukkan suatu integrasi atau saling keterkaitan dari berbagai aspek kepribadian. Kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola. Bagaimanapun, kepribadian bukan suatu organisasi yang statis, melainkan secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan. Istilah ”psikofisik” menekankan pentingnya aspek psikologis dan fisik dari kepribadian. Kata ”menentukan” dalam definisi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian ”merupakan sesuatu dan melakukan sesuatu”. Kepribadian bukanlah topeng yang secara tetap dikenakan seseorang; dan juga bukan perilaku sederhana. Kepribadian menunjuk orang di balik perilakunya atau organisme di balik tindakannya. Dengan kata ”karakteristik” Allport ingin menunjukkan sesuatu yang unik atau individual. Kepribadian seseorang bersifat unik, tidak dapat diduplikasi (ditiru) oleh siapa pun. Kata ”perilaku dan pikiran” secara sederhana menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, baik perilaku internal (pikiran-pikiran) maupun perilaku-perilaku eksternal seperti berkata-kata atau tindakan. Berdasarkan penjelasan Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan. Meskipun mengalami perubahan, kepribadian merupakan karakteristik yang relatif stabil. Hal ini sesuai penjelasan Allport bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola. Pandangan orang secara umum mengenai kepribadian sebagai sesuatu yang ajeg, konsisten, dan tidak berubah, tidak sepenuhnya salah. Namun, perlu diingat bahwa keadaan yang relatif stabil itu juga mengalami pertumbuhan dan perubahan.
Para teoretikus kepribadian tidak setujui dengan definisi tunggal kepribadian. Mereka menyusun teori yang unik dan vital karena memiliki pandangan yang berbeda mengenai sifat dasar manusia, dan karena masing-masing dari mereka melihat kepribadian dari sudut pandang pribadi.  Hal ini dikarenakan :
·         Tempat  tinggal dan lahir
·         Banyak  dari mereka yang pemikirannya dipengaruhi oleh pengalaman religius pada awal kehidupan mereka, yang lainnya tidak
·         Sebagian besar (tetapi tidak semuanya) berpengalaman di bidang Psikiatri atau psikologi.Banyak yang sudah berpengalaman sebagai psikoterapis,yang lainnya lebih mengandalkan penelitian empiris untuk mengumpulkan data kepribadian manusia.
Walaupun teoritikus selalu berhubungan dengan kepribadian dengan beberapa cara, mereka mempunyai sudut pandang sendiri untuk melakukan pendekatan pada konsep yg global ini. Beberapa dari mereka sudah mencoba utk menyusun teori yg komprehensif, yg lainnya hanya menyusun teori mengenai beberapa aspek dari kepribadian. Beberapa teoretikus sudah mendefinisikan secara formal, tetapi dalam definisi tersebut masih terdapat pandangan dari mereka sendiri.
KESIMPULAN
Walaupun tidak ada definisi tunggal yg bisa di terima  oleh semua teoretikus kepribadian. Kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi maupun individualitas pada perilaku seseorang. 
Sifat (trait) merupakan faktor penyebab adanya perbedaan antar individual dalam perilaku, konsistensi perilaku dari waktu ke waktu, dan stabilitas perilaku dalam berbagai situasi. Sifat saja bisa unik, sama pada beberapa kelompok manusia, atau dimiliki semua manusia, tetapi pola sifat pasti berbeda untuk masing-masing individu. Jadi masing-masing orang mempunyai kepribadian yang berbeda, walaupun memiliki kesamaan dalam beberapa hal dengan orang lain. Karakteristik (characteristic) merupakan kualitas tertentu yang dimiliki seseorang termasuk di dalamnya beberapa karakter seperti temperamen, fisik, dan kecerdasan.
3.      Konsep-konsep yang berhubungan dengan Kepribadian
Konsep-konsep yang berhubungan dengan Kepribadian Ada beberapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian bahkan kadang-kadang disamakan dengan kepribadian. Konsep-konsep yang berhubungan dengan kepribadian adalah :
a.       Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (banar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
b.      Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis atau fisiologis.
c.       Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolopok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama.
d.      Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
e.       Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.
Konsep-konsep di atas sebenarnya merupakan aspek-aspek atau komponen-komponen kepribadian karena pembicaraan mengenai kepribadian senantiasa mencakup apa saja yang ada di dalamnya, seperti karakter, sifat-sifat, dst. Interaksi antara berbagai aspek tersebut kemudian terwujud sebagai kepribadian.
4.      Usaha-usaha Mempelajari Kepribadian
Usaha-usaha untuk mengerti perilaku atau menyingkap kepribadian manu-sia sudah lama dilakukan dimulai dengan cara yang paling sederhana, yang tergolong pendekatan nonilmiah, sampai dengan cara-cara modern atau pendekatan ilmiah. Dari cara-cara yang sangat sederhana lahirlah pengetahuanpengetahuan yang bersifat spekulatif, dalam arti kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada beberapa pengetahuan yang menjelaskan kepribadian secara spekulatif. Pengetahuan seperti ini disebut juga ilmu semu (pseudo science). Yang termasuk ilmu-ilmu semu antara lain sebagai berikut ( Bisa dilihat pada buku Psikologi Kepribadian  Sumadi Suryabrata ) :
a)      Chirologi, yaitu pengetahuan yang berusaha mempelajari kepribadian manusia berdasarkan gurat-gurat tangan.
b)      Astrologi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar dominasi benda-benda angkasa terhadap apa yang sedang sedang terjadi di alam, termasuk waktu kelahiran  seseorang.
c)      Grafologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian atas dasar tulisan tangan.
d)     Phisiognomi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan  kepribadian atas dasar keadaan wajah.
e)      Phrenologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian berdasarkan keadaan tengkorak.
f)       Onychology, pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan kuku.
Cara mempelajari kepribadian yang dipandang lebih maju  menghasilkan bermacam-macam tipologi. Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor-faktor tertentu, misalnya karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominant nilai-nilai budaya, dst. ( Bisa dilihat pada buku Psikologi Kepribadian Sumadi Suryabrata Bab II, Bab III,dan Bab IV).
B.     TEORI
Kata "teori" adalah kata dalam bahasa Inggris yang penggunaannya sering kali tidak tepat dan disalahartikan. Beberapa orang membandingkan teori dengan kebenaran atau fakta, tetapi antitesis semacam itu menunjukkan kurangnya pemahaman mendasar akan tiga istilah tersebut. Dalam sains, teori merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan suatu penelitian dan mengatur observasi, sedangkan "kebenaran" atau "fakta" tidak mempunyai tempat dalam terminologi ilmiah.
1.      Definisi Teori
Teori ilmiah adalah sekumpulan asumsi yang saling berkaitan yang memungkinkan ilmuwan menggunakan pemikiran logika deduktif untuk merumuskan hipotesis yang bisa diuji.  Definisi ini perlu penjelasan lebih lanjut :
Pertama, teori adalah sekumpulan asumsi. Asumsi tunggal tidak akan bisa memenuhi semua persyaratan dari sebuah teori. Asumsi tunggal, contohnya, tidak bisa digunakan untuk mengintegrasikan beberapa observasi, sesuatu yang seharusnya bisa dipenuhi oleh sebuah teori.
 Kedua, teori adalah sekumpulan asumsi yang saling berkaitan. Asumsi yang berdiri sendiri tidak mempunyai konsistensi internal dan tidak bisa digunakan untuk menghasilkan hipotesis yang signifikan dua kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah teori.
Kata kunci ketiga dalam definisi tersebut adalah asumsi. Komponen-komponen dalam sebuah teori bukan merupakan fakta yang telah terbukti, dalam arti sudah terbukti kebenarannya. Komponen-komponen tersebut seolah-olah dianggap sebagai kebenaran. Ini adalah langkah praktis yang diambil agar ilmuwan bisa melakukan penelitian yang hasilnya bisa terus digunakan untuk mengembangkan dan memperbaiki teori awal.
Keempat, peneliti menggunakan pemikiran logika deduktif untuk merumuskan hipotesis. Prinsip-prinsip teori harus dinyatakan dengan tepat dan konsisten secara logis untuk memudahkan para ilmuwan menarik kesimpulan dari hipotesis yang sudah dirumuskan sebelumnya. Hipotesis bukanlah komponen dari sebuah teori, tetapi berasal dari teori tersebut. Ini merupakan tugas seorang ilmuwan yang imajinatif untuk memulai dari teori umum kemudian melalui pemikiran deduktif sampai pada sebuah hipotesis tertentu yang bisa diuji. Jika dalil-dalil teoretis umum tidak logis, maka teori itu tidak bisa digunakan untuk merumuskan hipotesis. Lebih lanjut, jika seorang peneliti menggunakan logika yang salah dalam menarik kesimpulan hipotesis, maka hasil penelitian tidak ada artinya dan tidak akan memberikan kontribusi pada proses rekonstruksi teori.
Bagian akhir dari definisi tersebut adalah bisa diuji. Sebuah hipotesis yang tidak bisa diuji tidak akan ada gunanya. Hipotesis memang tidak perlu segera diuji, tetapi harus menggambarkan kemungkinan bisa diuji sehingga para ilmuwan di masa yang akan datang dapat mengembangkan cara-cara yang diperlukan untuk mengujinya.
2.      Beberapa Konsep yang berkaitan dengan teori
Manusia kadang-kadang mencampuradukkan teori dengan filsafat, pemikiran, hipotesis, taksonomi. Walaupun teori berkaitan dengan masing-masing konsep, teori tidak bisa disamakan dengan satu pun dari konsep tersebut.
a.      Filsafat
Pertama, teori berkaitan dengan filsafat, tetapi dalam pengertian yang lebih sempit. Filsafat artinya kecintaan akan kebijaksanaan, dan filsuf adalah orang-orang yang mencari kebijaksanaan melalui pemikiran dan perenungan. Filsuf bukan ilmuwan, mereka tidak melakukan penelitian yang terkontrol untuk memperoleh kebijaksanaan. Filsafat memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya adalah epistemologi atau sifat dasar pengetahuan. Teori paling dekat kaitannya dengan epistemologi karena para ilmuwan sering kali menggunakannya untuk mencari pengetahuan.
Teori tidak berhubungan dengan "seharusnya" (ought) atau "sebaiknya" (should). Oleh karena itu, sekumpulan prinsip tentang bagaimana seseorang sebaiknya menjalani hidup tidak bisa disebut sebagai teori. Prinsip semacam itu melibatkan nilai - nilai dan mendapat perhatian penting dalam filsafat. Walaupun teori tidak terbebas dari nilai-nilai, tetapi teori dibangun dari bukti ilmiah yang diperoleh dari keadaan yang relatif tidak bias. Tadi, tidak ada teori yang menyatakan mengapa masyarakat sebaiknya membantu para tunawisma atau apa yang menyebabkan karya seni dianggap hebat.
Filsafat berhubungan dengan apa yang seharusnya atau apa yang sebaiknya; berbeda dengan teori. Teori berhubungan dengan sekumpulan besar pernyataan "jika-maka" (if - then), tetapi kelebihan atau kekurangan yang terdapat dalam pernyataan tersebut berada di luar wilayah teori. Contohnya, sebuah teori mungkin menyatakan jika anak-anak dibesarkan dalam kondisi di mana benar-benar tidak ada kontak dengan manusia, maka mereka tidak akan memiliki kemampuan berbahasa manusia, tidak memperlihatkan perilaku pengasuhan, dan sebagainya. Akan tetapi, pernyataan tersebut sama sekali tidak mengatakan tentang moralitas dari pengasuhan semacam itu.
b.      Pemikiran
Kedua, teori bergantung pada pemikiran atau spekulasi, tetapi mereka lebih dari sekadar pemikiran biasa. Mereka bukan berasal dari pikiran seorang pemikir besar yang terlepas dari pengamatan empiris. Mereka berkaitan erat dengan data yang dikumpulkan secara empiris dan juga dengan sains.
Apa hubungan atara teori dan sains? Sains (science) adalah cabang ilmu yang Mengutamakan observasi dan klasifikasi data serta pembuktian hukum-hukum umum melalui pengujian hipotesis. Teori merupakan alat yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memberi makna dan mengatur observasi. Teori menyediakan lahan yang subur untukmenghasilkan hipotesis yang bisa diuji. Tanpa adanya teori yang mengatur observasi dan menunjukkan arah penelitian, maka sains tidak akan berkembang.
Teori bukan merupakan khayalan - khayalan tidak berguna yang dikemukakan oleh sarjana-sarjana tidak praktis yang tidak mau berkecimpung dalam penelitian ilmiah. Sebenarnya, teori itu sendiri cukup praktis dan penting untuk kemajuan sains. Pemikiran dan observasi empiris adalah dua landasan penting untuk membangun sebuah teori, tetapi pemikiran tidak boleh dikemukakan sebelum adanya observasi yang terkontrol.
c.       Hipotesis
Walaupun teori merupakan konsep yang ruang lingkupnya lebih sempit dari filsafat, teori adalah istilah yang maknanya lebih luas daripada hipotesis. Teori yang baik mampu menghasilkan banyak hipotesis. Hipotesis adalah perkiraan atau prediksi ilmiah yang cukup spesifik untuk bisa diuji validitasnya melalui metode ilmiah. Sebuah teori masih terlalu umum untuk bisa mengarahkan dirinya menuju sebuah pembuktian, tetapi satu teori yang komprehensif mampu menghasilkan ribuan hipotesis. Jadi, hipotesis lebih spesifik daripada teori. Akan tetapi, jangan mencampuradukkan hipotesis dengan teori.
Tentu saja, teori dan hipotesis saling berkaitan erat. Dengan menggunakan pemikiran deduktif (dari umum ke khusus), seorang peneliti dapat menarik hipotesis yang bisa diuji dari sebuah teori yang baik kemudian menguji hipotesis tersebut. Hasil dari pengujian ini-apakah mendukung atau membantah hipotesis-akan menjadi masukan bagi teori tersebut. Dengan menggunakan pemikiran induktif (dari khusus ke umum), peneliti akan memanfaatkan teori untuk menjelaskan hasil penelitian. Ketika teori berkembang dan berubah, teori dapat menghasilkan hipotesis lain, dan ketika hipotesis itu diuji maka hasilnya akan mengubah kembali teori tersebut.
d.      Taksonomi
Taksonomi adalah klasifikasi berbagai hal berdasarkan hubungan kekerabatannya.Taksonomi dianggap penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan karena tanpa klasifikasi data maka ilmu pengetahuan tidak akan mampu untuk berkembang. Akan tetapi, klasifikasi saja tidak akan membuatnya menjadi teori. Namun, taksonomi dapat berkembang menjadi teori ketika mulai menghasilkan hipotesis yang bisa diuji dan menjelaskan hasil penelitian. Contohnya, Robert McCrae dan Paul Costa memulai penelitian mereka dengan mengklasifikasikan manusia ke dalam lima sifat kepribadian yang menetap; kemudian klasifikasi ini menjadi teori serta mampu menghasilkan hipotesis dan menjelaskan hasil penelitian.
3.      Mengapa Ada Banyak Teori yang Berbeda ?
Munculnya banyak teori yang berbeda karena sifat dasar teori memperbolehkan seorang teoretikus untuk berspekulasi dari sudut pandang tertentu. Para teoretikus harus mampu berlaku seobjektif mungkin ketika mengumpulkan data, tetapi keputusan mengenai data apayang dikumpulkan dan bagaimana data diinterpretasikan adalah hak pribadi mereka. Teori bukan merupakan hukum-hukum yang kekal. Teori dibangun, bukan dari kenyataan yang sudah terbukti, tetapi dari asumsi -asumsi yang diinterpretasikan oleh individu.
Semua teori merupakan cerminan dari latar belakang penemunya, seperti pengalaman masa kecil, falsafah hidup, hubungan interpersonal, dan cara memandang dunia. Oleh karena observasi dipengaruhi oleh kerangka pikiran dari masing-masing pengamat, maka muncullah banyak teori yang berbeda. Meskipun demikian, teori-teori tersebut dapat dimanfaatkan.
Manfaat dari sebuah teori tidak bergantung pada nilai rasionalnya atau pada kesesuaiannya dengan teori lainnya, namun lebih bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan penelitian dan menjelaskan data hasil penelitian serta observasi lainnya.
4.      Kepribadian Teoretikus dan Teori Kepribadian Mereka
Oleh karena teori kepribadian berkembang dari kepribadian para pembuat teori (teoretikus), maka studi tentang kepribadian mereka dianggap tepat. Beberapa tahun terakhir, cabang ilmu psikologi yang disebut psikologi sains (psychology of science) telah mulai mempelajari sifat pribadi para ilmuwan. Psikologi sains mempelajari sains dan juga perilaku para ilmuwan; yaitu meneliti dampak psikologis seorang ilmuwan dan karakteristik pribadinya terhadap pengembangan teori ilmiah dan penelitiannya (Feist, 1993, 1994, 2006; Feist & Gorman, 1998; Gholson, Shadish, Neimeyer, & Houts, 1989). Dengan kata lain, psikologi sains mempelajari bagaimana kepribadian ilmuwan, proses kognitif, sejarah perkembangan, dan pengalaman sosial memengaruhi bidang ilmu yang mereka geluti dan teori yang mereka ciptakan. Beberapa peneliti (Hart, 1982; Johnson, Germer, Efran, & Overton, 1998; Simonton, 2000; Zachar & Leong, 1992) telah menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian memengaruhi orientasi teoretis seseorang dan kecenderungan seseorang untuk mengarah pada sisi "keras" atau "lunak" dari suatu disiplin ilmu.
Sebuah pemahaman teori kepribadian bersandar pada informasi tentang latar belakang sejarah, sosial, dan psikologis masing-masing teoretikus pada saat ia menciptakan sebuah teori. Oleh karena kita percaya bahwa teori kepribadian menggambarkan kepribadian si teoretikus, maka kita sudah memasukkan informasi biografi yang cukup banyak untuk setiap teoretikus besar. Memang, perbedaan kepribadian di antara para teoretikus menjadi penyebab utama perbedaan pandangan antara mereka yang cenderung pada psikologi kuantitatif (pakar dalam hal perilaku, pembelajaran sosial, dan sifat) dan mereka yang cenderung pada psikologi klinis dan kualitatif (psikoanalis, humanis, dan eksistensialis).
Walaupun sebagian dari kepribadian teoretikus memengaruhi teori yang dihasilkannya, tidak seharusnya hal ini menjadi faktor penentu satu-satunya dari teori tersebut. Demikian juga, penerimaan saudara  terhadap satu teori atau teori lainnya seharusnya tidak bergantung hanya pada nilai-nilai pribadi dan minat saudara. Ketika menilai dan memilih sebuah teori, saudara sebaiknya mengakui bahwa sejarah pribadi teoretikus memengaruhi teorinya, tetapi pada akhirnya saudara sebaiknya menilai sebuah teori berdasarkan kriteria ilmiah yang tidak bergantung pada sejarah pribadi seseorang. Beberapa pengamat (Feist, 2006; Feist & Gorman, 1998) telah membedakan antara sains sebagai proses dan sains sebagai produk. Proses ilmiah mungkin dipengaruhi oleh karakteristik pribadi teoretikus, tetapi manfaat akhir dari produk ilmiah harus dinilai secara terpisah dari proses ilmiahnya.
5.      Apa yang Membuat Teori Bermanfaat ?
Sebuah teori yang bermanfaat memiliki interaksi yang dinamis dengan data hasil penelitian. Pertama ,  sebuah teori melahirkan beberapa hipotesis yang bisa diuji melalui penelitian untuk menghasilkan data penelitian. Data-data ini dimasukkan kembali ke dalam teori sehingga mengubah bentuk teori tersebut. Dari bentuk teori yang baru, peneliti dapat menarik hipotesis lain, mengujinya melalui penelitian baru dan menghasilkan tambahan data, yang pada akhirnya kembali mengubah bentuk dan memperluas teori. Siklus ini terus berlangsung selama teori terbukti bermanfaat.
Kedua, sebuah teori yang bermanfaat dapat mengubah data penelitian menjadi lebih dari sekadar data dan memberikan penjelasan tentang hasil penelitian ilmiah. Hubungan antara teori dengan data penelitian diperlihatkan dalam gambar I. Ketika sebuah teori tidak lagi mampu menghasilkan penelitian lanjutan atau menjelaskan data penelitian yang terkait, maka teori tersebut kehilangan manfaatnya sehingga dikesampingankan dan diganti dengan teori lain yang lebih bermanfaat.
Selain untuk menstimulasi penelitian dan menjelaskan data penelitian, teori yang bermanfaat harus memperlihatkan kemungkinan untuk dikaji ulang, menyediakan panduan bagi para praktisi untuk meneliti konsisten dan memperoleh jawaban sesederhana mungkin.
Dengan demikian teori yang bermanfaat harus memiliki 6 kriteria :
·         Mengembangkan  penelitian
·         Dapat  dikaji ulang
·         Mengorganisasi  pengetahuan 
·         Memberi  panduan pemecahan masalah
·         Konsistensi internal
·         Sederhana  
a.      Mengembangkan Penelitian
Kriteria  paling penting untuk menilai sebuah teori bermanfaat atau tidak adalah dari kemampuannya menstimulasi dan mengarahkan penelitian lebih lanjut. Tanpa adanya teori yang memadai untuk menunjukkan arah penelitian, banyak hasil penelitian secara empiris tidak diketahui penyebabnya.
Teori yang bermanfaat akan menstimulus dua jenis penelitian: penelitian deskriptif (desriptive research) dan pengujian hipotesis (hypothesis testing). Penelitian deskriptif, yg dapat memperluas teori, menitikberatkan pada pengukuran, pemberian label, dan kateegorisasi satuan yang dipakai dalam membangun teori. Penelitian deskriptif mempunyai hubungan simbiosis dengan teori. Di satu sisi, penelitian ini menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun teori, di sisi lain, penelitian ini berkembang dari teori yang dinamis dan luas. Semakin bermanfaat suatu teori maka semakin banyak penelitian yang dihasilkan dan semakin banyak pula jumlah penelitian deskriptifnya yang pada akhirnya semakin lengkap pula teorinya.
Jenis penelitian yang kedua adalah pengujian hipotesis (hypothesis testing) mengarah pada pembuktian tidak langsung dari manfaat satu teori. Teori yang bermanfaat akan menghasilkan banyak hipotesis yang ketika diuji maka menambah data yang akan mengubah bentuk dan memperluas teori
Gambar I


b.      Dapat Dikaji Ulang
Sebuah teori juga harus bisa dinilai dari kemampuannya untuk dikonfirmasi (confirmed) atau disangkal (disconfirmed), oleh karena itu teori harus bisa dikaji ulang (falsifiable). Untuk bisa diulang, sebuah teori harus cukup jelas untuk mengarahkan penelitian yang hasilnya bisa mendukung atau tidak mendukung prinsip utamanya. Jika sebuah teori terlalu samar dan tidak jelas, maka hasil penelitian, baik positif maupun negatif bisa diinterpretasikan sebagai hal yang mendukung teori. Akibatnya, teori tersebut tidak bisa diulang dan tidak bermanfaat lagi. Akan tetapi,falsifiability tidak sama dengan tidak benar (false), ini hanya berarti bahwa hasil penelitian yang negatif akan menyangkal teori dan memaksa teoretikusnya untuk membuang teori itu atau mengubahnya.
Teori yang falsifiable memengaruhi hasil eksperimen. Gambar I memperlihatkan sebuah siklus yang saling menguatkan antar teori dan penelitian, masing-masing menjadi dasar untuk lainnya. Sains dibedakan dengan sesuatu yang bukan sains dari kemampuannya untuk menolak gagasan yang tidak didukung bukti empiris walaupun gagasan tersebut tampak logis dan rasional. Contohnya, Aristotle menggunakan logika dalam pernyataannya bahwa tubuh yang ringan akan jatuh dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan dengan tubuh yang berat. Walaupun pendapatnya "masuk akal", terdapat satu kendala yaitu, secara empiris, pendapat ini salah.
Teori yang sangat bergantung pada perubahan alam bawah sadar yang tidak bisa diamati akan semakin sulit untuk dibuktikan atau disangkal. Contohnya, teori Freud menyatakan bahwa banyak emosi dan perilaku kita, yang disebabkan oleh kecenderungan alam bawah sadar, yang berlawanan dengan perilaku yang kita perlihatkan. Misalnya, kebencian yang tidak disadari mungkin diekspresikan sebagai cinta yang disadari, atau ketakutan yang tidak disadari terhadap perasaan homoseksual yang terdapat dalam dirinya sendiri mungkin akan memunculkan permusuhan yang berlebihan terhadap kaum homoseksual. Oleh karena teori Freud memperbolehkan adanya perubahan/transformasi pada alam bawah sadar, maka hampir tidak mungkin untuk membuktikan atau menyangkal teori tersebut. Sebuah teori yang mampu menjelaskan semua hal tidak akan menjelaskan apapun.
c.       Mengorganisasi Pengetahuan
Teori yang bermanfaat seharusnya juga mampu mengorganisasi pengetahuan yang saling bertentangan. Tanpa pengorganisasian dan kategorisasi, hasil penelitian tidak akan ada artinya dan dibiarkan begitu saja. Kecuali data diolah menjadi kerangka pikir yang dapat dipahami, peneliti tidak akan mempunyai arah yang jelas untuk diikuti dalam mencari pengetahuan lebih lanjut. Mereka tidak dapat membuat pertanyaan tanpa adanya kerangka teoretis yang mendasari informasi yang mereka peroleh. Tanpa adanya pertanyaan, maka penelitian lebih lanjut sulit untuk dilakukan.
Teori kepribadian yang bermanfaat hams mampu menyatukan dari apa yang sudah iiketahui tentang perilaku manusia dengan perkembangan kepribadian. Teori ini harus mampu mengubah sebanyak mungkin informasi menjadi kerangka pikir yang lebih bermakna. Jika teori kepribadian tidak memberikan penjelasan yang masuk akal tentang perilaku tertentu, maka teori tersebut menjadi tidak bermanfaat.
d.      Panduan Pemecahan Masalah
Kriteria  keempat untuk teori yang bermanfaat adalah kemampuannya untuk memandu praktisi menghadapi permasalahan sehari-hari yang sulit. Contohnya, para orang tua, guru, manajer bisnis, dan psikoterapis sering dihadapkan pada banyak pertanyaan di mana mereka mencoba untuk menemukan jawabannya. Teori yang baik menyediakan petunjuk untuk memukan jawaban-jawaban tersebut. Tanpa teori yang bermanfaat, praktisi akan terjebak dalam teknik coba-salah (trial and error), dengan orientasi teoretis yang baik, mereka bisa menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan.
Untuk psikoanalis Freudian dan terapis Rogerian, jawaban atas pertanyaan yang sama akan sangat berbeda. Untuk pertanyaan "Bagaimana aku bisa memberikan perawatan terbaik untuk pasien ini?" terapis psikoanalisis akan menjawab dengan: Jika psikoneurosis disebabkan oleh konflik seksual di masa kecil yang telah masuk ke alam bawah sadar, maka cara terbaik bagi saya untuk membantu pasien ini adalah dengan mempelajari represi-represi tersebut dan membiarkan pasien mengulang kembali pengalaman-pengalamannya tanpa adanya konflik yang hadir. Untuk pertanyaan yang sama, terapis Rogerian akan menjawab: Jika, untuk bisa dewasa secara psikologis manusia membutuhkan empati, perhatian positif yang tidak bersyarat, dan hubungan yang seimbang dengan terapis, maka cara terbaik bagi saya untuk membantunya adalah dengan menciptakan kondisi yang membuatnya nyaman dan tidak merasa terancam. Perhatikan bahwa kedua terapis menjawab dalam kerangka jika-maka (if-then), walaupun kedua jawaban tersebut menyebutkan dua tindakan yang berbeda.
Juga termasuk dalam kriteria ini adalah bagaimana sebuah teori menstimulasi gagasan dan tindakan dalam disiplin ilmu lainnya, seperti seni, sastra (termasuk film dan drama televisi), hukum, sosiologi, filsafat, agama, pendidikan, administrasi bisnis, dan psikoterapi.Sebagian besar teori yang dibahas dalam buku ini sudah memengaruhi wilayah lain di luar psikologi. Contohnya, teari Freud telah mendorong penelitian tentang pemulihan ingatan (recovered memories), sebuah topik yang sangat penting bagi para pengacara. Juga, teori Carl Jung menarik minat para ahli agama dan merebut perhatian para penulis populer, seperti Joseph Campbell dan lainnya. Hal yang sama juga terjadi pada teori Alfred Adler, Erik Erikson, B. F. Skinner, Abraham Maslow, Carl Rogers, Rollo May, dan teoretikus kepribadian lainnya yang telah menarik minat dan perhatian bidang-bidang ilmu lainnya.
e.       Konsistensi  Internal
Sebuah teori yang bermanfaat tidak perlu konsisten dengan teori lain, tetapi teori ini harus konsisten dengan dirinya sendiri. Teori yang konsisten secara internal adalah teori yang komponen-kamponennya memiliki kemiripan secara logis. Batasan terhadap ruang lingkupnya ditentukan dengan hati-hati dan karena itu tidak memberikan penjelasan di luar dari ruang lingkupnya. Teori yang memiliki konsistensi internal juga menggunakan bahasa yang konsisten; yaitu, teori tersebut tidak menggunakan istilah yang sama untuk dua hal berbeda atau menggunakan dua istilah berbeda untuk konsep yang sama
Teori yang baik akan menggunakan konsep dan istilah yang sudah didefinisikan secara operasional dan jelas. Definisi operasional adalah definisi yang menentukan satuan dalam hal perilaku dan peristiwa teramati yang bisa diukur. Contohnya, ekstrover bisa didefinisikan secara operasional sebagai tiap orang yang mencapai skor tertentu, yang sudah ditetapkan sebelumnya, dalam sebuah tes kepribadian.
f.       Sederhana(Parsimonious)
Ketika dua teari mempunyai kesamaan dalam hal kemampuannva untuk menghasilkan penelitian, dapat disangkal memberi makna pada data, memandu praktisi dan mempunyai konsistensi internal, ternyata teori yang lebih sederhana lebih disukai. Ini  adalah hukum parsimony. Pada kenyataannya, tentu saja, dua teori tidak pernah tepat sama dalam kriteria-kriteria ini, tetapi secara umum, teori yang sederhana dan langsung pada masalah  lebih bermanfaat dari pada teori dengan Konsep yang rumit dan bahasa yang esoteris (yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu).
Dalam membangun teori kepribadian, sebaiknya mulai dari skala terbatas dan menghindari untuk menyamaratakan semua perilaku manusia. Tindakan seperti ini dilakukan oleh sebagian teoretikus.contohnya : Freud mulai dengan teori yang banyak didasarkan pada hysterical neurosis dan setelah bertahun-tahun, secara bertahap memperluasnya agar bisa mencakup lebih banyak aspek dari kepribadian.
6.      Penelitian Teori Kepribadian
Seperti sudah kita ketahui sebelumnya, kriteria utama suatu teori yang bermanfaat adalah kemampuannya menghasilkan penelitian. Kita juga mengetahui bahwa teori dan data penelitian mempunyai hubungan berkesinambungan: teori memberi makna pada data dan data berasal dari penelitian eksperimental yang dibuat untuk menguji hipotesis yang berasal dari teori. Namun, tidak semua data berasal dari penelitian eksperimental. Banyak di antaranya berasal dari observasi yang kita buat setiap hari. Observasi artinya hanya memperhatikan sesuatu atau memberi perhatian pada sesuatu.
Anda telah melakukan pengamatan pada kepribadian manusia hampir sepanjang hidup Anda. Anda memperhatikan bahwa beberapa orang suka bicara dan ramah; yang lainnya pendiam dan bersikap hati-hati. Anda mungkin sudah memberi mereka label sebagai ekstrover atau introver. Apakah pelabelan ini akurat? Apakah seseorang yang ekstrover sarna seperti ekstrover lainnya? Apakah seorang ekstrover selalu banyak bicara dan bersikap ramah? Dapatkah semua orang dikategorikan sebagai introver atau ekstrover ?
Ketika Anda mengamati dan mengajukan pertanyaan, Anda melakukan hal yang sarna dengan yang dilakukan para psikolog, yaitu mengamati perilaku manusia dan mencoba mencari jawaban dari hasil pengamatan ini. Namun, psikolog, seperti ilmuwan lainnya, mencoba untuk sistematis sehingga prediksi mereka konsisten dan akurat.
Untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memprediksi, perlunya mengembangkan teknik penilaian (assessment), termasuk inventori kepribadian. Banyak dari penelitian menggunakan prosedur penilaian yang beragam, yang bertujuan untuk mengukur dimensi-dimensi yang berbeda dari kepribadian. Alat-alat pengukuran ini harus dapat diandalkan dan valid supaya dapat digunakan. Reliabilitas alat pengukuran adalah tingkat di mana alat ukur tersebut memberikan hasil yang konsisten.
Inventori kepribadian bisa diandalkan tetapi kurang valid atau akurat. Validitas adalah tingkat di mana suatu alat mengukur apa yang seharusnya diukur. Psikolog kepribadian sangat menaruh perhatian pada dua jenis validitas-validitas konstruk dan validitas prediktif. Validitas konstruk adalah tingkat di mana sebuah alat mengukur beberapa konsep hipotetis. Konsep- konsep seperti extraversi, agresivitas, kecerdasan, dan stabilitas emosi tidak mempunyai bentuk nyata; mereka adalah konsep hipotetis yang dihubungkan dengan perilaku yang dapat diamati. Tiga jenis validitas konstruk yang penting adalah validitas konvergen, validitas divergen, dan validitas diskriminan. Sebuah alat pengukuran dikatakan mempunyai validitas konvergen ketika skor pada alat tersebut memiliki korelasi yang tinggi dengan nilai-nilai pada beragam alat pengukuran lain untuk konstruk yang sarna. Contohnya, inventori kepribadian yang ditujukan untuk mengukur ekstraversi harus berkorelasi dengan pengukuran ekstraversi lainnya atau faktor-faktor lain seperti sosiabilitas dan asertivitas, yang diketahui berada dalam satu kelompok dengan ekstraversi. Suatu inventori memiliki validitas divergen jika berkorelasi rendah atau tidak signifikan dengan inventori lain yang tidak mengukur konstruk tersebut.
Sebagai contoh, inventori untuk mengukur ekstraversi tidak boleh memiliki korelasi yang tinggi dengan keinginan sosial, stabilitas emosi, kejujuran, atau harga diri. Hal yang terakhir, inventori memiliki validitas diskriminan jika mampu membedakan antara dua kelompok manusia yang diketahui sudah mempunyai perbedaan. Misalnya, inventori kepribadian yang mengukur ekstraversi harus menghasilkan skor yang lebih tinggi bagi seseorang yang diketahui ekstrover daripada seseorang yang diketahui introver.
Dimensi kedua dari validitas adalah validitas prediktif, di mana suatu tes dilakukan untuk memprediksi perilaku yang akan datang. Contoh, sebuah tes ekstraversi mempunyai validitas prediktif bila berkorelasi dengan perilaku di masa depan, seperti merokok, berprestasi baik dalam tes akademik, pengambilan risiko, atau kriteria independen lainnya. Nilai  akhir dari setiap alat ukur adalah tingkat di mana alat ukur tersebut bisa memprediksi beberapa perilaku atau kondisi di masa depan.
Pada awalnya, sebagian besar teoretikus kepribadian tidak menggunakan inventori penilaian yang terstandarisasi. Walaupun Freud, Adler, dan Jung mengembangkan beberapa teknik untuk memprediksi, tidak ada satu pun dari mereka menggunakan teknik yang cukup akurat untuk menentukan reliabilitas dan validitasnya. Akan tetapi, teori-teori Freud, Adler dan Jung telah menghasilkan sejumlah inventori kepribadian yang terstandarisasi sejak para peneliti dan ahli klinis mencoba untuk mengukur unit-unit kepribadian yang dikemukakan oleh para teoretikus tersebut. Kemudian, teoretikus kepribadian yang lain, terutama Julian Rotter, Hans Eysenck dan teoretikus Five-Factor mengembangkan dan menggunakan beberapa alat ukur kepribadian dan sangat mengandalkan alat tersebut untuk membangun model teoretis mereka.



SELAMAT BELAJAR DAN SEMOGA SUKSES…..
KARENA SUKSES ADALAH HAK ANDA 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar