MATA
KULIAH TEORI KEPRIBADIAN
Learning Goals :
·
Mendefinisikan dan
menjelaskan kepribadian dan Konsep-konsep yang berhubungan dengan Kepribadian
·
Mendefinisikan dan
menjelaskan teori serta beberapa konsep
yang berkaitan dengan teori
A. APAKAH
YANG DI MAKSUD KEPRIBADIAN ?
1. Tinjauan
secara Etimologis
Istilah
kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan personality. Istilah ini berasal dari bahasa
Yunani, yaitu persona,
yang berarti topeng/masker
dan personare,
yang artinya menembus. Istilah topeng berkenaan dengan salah satu atribut
yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng
yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan,
karakter dari tokoh yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti
dapat dipahami oleh para penonton.
Dari
sejarah pengertian kata personality tersebut, kata persona yang semua berarti
topeng, kemudian diartikan sebagai pemaiannya sendiri, yang memainkan peranan
seperti digambarkan dalam topeng tersebut. Dan sekarang ini istilah personality
oleh para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau
untuk menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.
2. Definisi-definisi
Kepribadian
Banyak
ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang
mereka yakini dan focus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan
demikian akan dijumpai banyak variasi definisi sebanyak ahli yang
merumuskannya. Berikut ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat
dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian. Definisi Kepribadian David Krech dan Richard S. Crutchfield dalam bukunya yang
berjudul Elelemnts of Psychology merumuskan
definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an
individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is
modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment.” (Kepribadian
adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang
unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus)
Adolf
Heuken S.J. dkk. menyatakan “Kepribadian
adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang,
baik yang jasmani,mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah
ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola
ini terwujud dalam tingkah lakunya,dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.
Sedangkan
G. Allport menyatakan Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari
sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang
unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Organisasi dinamis” menunjukkan suatu integrasi atau saling
keterkaitan dari berbagai aspek kepribadian. Kepribadian merupakan sesuatu yang
terorganisasi dan terpola. Bagaimanapun, kepribadian bukan suatu organisasi
yang statis, melainkan secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan. Istilah
”psikofisik” menekankan pentingnya aspek psikologis dan fisik dari kepribadian.
Kata ”menentukan” dalam definisi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian
”merupakan sesuatu dan melakukan sesuatu”. Kepribadian bukanlah topeng yang
secara tetap dikenakan seseorang; dan juga bukan perilaku sederhana.
Kepribadian menunjuk orang di balik perilakunya atau organisme di balik
tindakannya. Dengan kata ”karakteristik” Allport ingin menunjukkan sesuatu yang
unik atau individual. Kepribadian seseorang bersifat unik, tidak dapat
diduplikasi (ditiru) oleh siapa pun. Kata ”perilaku dan pikiran” secara
sederhana menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, baik perilaku
internal (pikiran-pikiran) maupun perilaku-perilaku eksternal seperti
berkata-kata atau tindakan. Berdasarkan penjelasan Allport tersebut kita dapat
melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan
fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian
merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan,
kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan. Meskipun mengalami
perubahan, kepribadian merupakan karakteristik yang relatif stabil. Hal ini
sesuai penjelasan Allport bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang
terorganisasi dan terpola. Pandangan orang secara umum mengenai kepribadian
sebagai sesuatu yang ajeg, konsisten, dan tidak berubah, tidak sepenuhnya
salah. Namun, perlu diingat bahwa keadaan yang relatif stabil itu juga
mengalami pertumbuhan dan perubahan.
Para
teoretikus kepribadian tidak setujui dengan definisi tunggal kepribadian.
Mereka menyusun teori yang unik dan vital karena memiliki pandangan yang
berbeda mengenai sifat dasar manusia, dan karena masing-masing dari mereka
melihat kepribadian dari sudut pandang pribadi. Hal ini dikarenakan :
·
Tempat tinggal dan lahir
·
Banyak dari mereka yang pemikirannya dipengaruhi
oleh pengalaman religius pada awal kehidupan mereka, yang lainnya tidak
·
Sebagian besar (tetapi
tidak semuanya) berpengalaman di bidang Psikiatri atau psikologi.Banyak yang
sudah berpengalaman sebagai psikoterapis,yang lainnya lebih mengandalkan
penelitian empiris untuk mengumpulkan data kepribadian manusia.
Walaupun
teoritikus selalu berhubungan dengan kepribadian dengan beberapa cara, mereka
mempunyai sudut pandang sendiri untuk melakukan pendekatan pada konsep yg
global ini. Beberapa dari mereka sudah mencoba utk menyusun teori yg
komprehensif, yg lainnya hanya menyusun teori mengenai beberapa aspek dari
kepribadian. Beberapa teoretikus sudah mendefinisikan secara formal, tetapi
dalam definisi tersebut masih terdapat pandangan dari mereka sendiri.
KESIMPULAN
Walaupun
tidak ada definisi tunggal yg bisa di terima
oleh semua teoretikus kepribadian. Kepribadian adalah pola sifat dan
karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi
maupun individualitas pada perilaku seseorang.
Sifat
(trait) merupakan faktor penyebab adanya perbedaan antar individual dalam perilaku,
konsistensi perilaku dari waktu ke waktu, dan stabilitas perilaku dalam
berbagai situasi. Sifat saja bisa unik, sama pada beberapa kelompok manusia,
atau dimiliki semua manusia, tetapi pola sifat pasti berbeda untuk
masing-masing individu. Jadi masing-masing orang mempunyai kepribadian yang
berbeda, walaupun memiliki kesamaan dalam beberapa hal dengan orang lain.
Karakteristik (characteristic) merupakan kualitas tertentu yang dimiliki
seseorang termasuk di dalamnya beberapa karakter seperti temperamen, fisik, dan
kecerdasan.
3. Konsep-konsep
yang berhubungan dengan Kepribadian
Konsep-konsep
yang berhubungan dengan Kepribadian Ada beberapa konsep yang berhubungan erat
dengan kepribadian bahkan kadang-kadang disamakan dengan kepribadian.
Konsep-konsep yang berhubungan dengan kepribadian adalah :
a. Character
(karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai
(banar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
b. Temperament
(temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis
atau fisiologis.
c. Traits (sifat-sifat),
yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolopok stimuli yang mirip,
berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama.
d. Type attribute (ciri),
mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
e. Habit (kebiasaan),
merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama
pula.
Konsep-konsep
di atas sebenarnya merupakan aspek-aspek atau komponen-komponen kepribadian
karena pembicaraan mengenai kepribadian senantiasa mencakup apa saja yang ada
di dalamnya, seperti karakter, sifat-sifat, dst. Interaksi antara berbagai
aspek tersebut kemudian terwujud sebagai kepribadian.
4. Usaha-usaha
Mempelajari Kepribadian
Usaha-usaha
untuk mengerti perilaku atau menyingkap kepribadian manu-sia sudah lama
dilakukan dimulai dengan cara yang paling sederhana, yang tergolong pendekatan
nonilmiah, sampai dengan cara-cara modern atau pendekatan ilmiah. Dari
cara-cara yang sangat sederhana lahirlah pengetahuanpengetahuan yang bersifat
spekulatif, dalam arti kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara
ilmiah. Ada beberapa pengetahuan yang menjelaskan kepribadian secara
spekulatif. Pengetahuan seperti ini disebut juga ilmu semu (pseudo science). Yang termasuk
ilmu-ilmu semu antara lain sebagai berikut ( Bisa dilihat pada buku Psikologi
Kepribadian Sumadi Suryabrata ) :
a) Chirologi,
yaitu pengetahuan yang berusaha mempelajari kepribadian manusia berdasarkan
gurat-gurat tangan.
b) Astrologi,
adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar dominasi
benda-benda angkasa terhadap apa yang sedang sedang terjadi di alam, termasuk
waktu kelahiran seseorang.
c) Grafologi,
merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian atas dasar tulisan
tangan.
d) Phisiognomi,
adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan wajah.
e) Phrenologi,
merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian berdasarkan
keadaan tengkorak.
f) Onychology,
pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan kuku.
Cara
mempelajari kepribadian yang dipandang lebih maju menghasilkan bermacam-macam tipologi.
Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi
tipe-tipe tertentu atas dasar faktor-faktor tertentu, misalnya karakteristik
fisik, psikis, pengaruh dominant nilai-nilai budaya, dst. ( Bisa dilihat pada
buku Psikologi Kepribadian Sumadi Suryabrata Bab II, Bab III,dan Bab IV).
B. TEORI
Kata "teori" adalah kata
dalam bahasa Inggris yang penggunaannya sering kali tidak tepat dan
disalahartikan. Beberapa orang membandingkan teori dengan kebenaran atau fakta,
tetapi antitesis semacam itu menunjukkan kurangnya pemahaman mendasar akan tiga
istilah tersebut. Dalam sains, teori merupakan alat yang digunakan untuk
menghasilkan suatu penelitian dan mengatur observasi, sedangkan
"kebenaran" atau "fakta" tidak mempunyai tempat dalam
terminologi ilmiah.
1.
Definisi Teori
Teori ilmiah adalah sekumpulan
asumsi yang saling berkaitan yang memungkinkan ilmuwan menggunakan pemikiran
logika deduktif untuk merumuskan hipotesis yang bisa diuji. Definisi ini perlu penjelasan lebih lanjut :
Pertama, teori adalah sekumpulan
asumsi. Asumsi tunggal tidak akan bisa memenuhi semua persyaratan dari sebuah
teori. Asumsi tunggal, contohnya, tidak bisa digunakan untuk mengintegrasikan
beberapa observasi, sesuatu yang seharusnya bisa dipenuhi oleh sebuah teori.
Kedua,
teori adalah sekumpulan asumsi yang saling berkaitan. Asumsi yang berdiri
sendiri tidak mempunyai konsistensi internal dan tidak bisa digunakan untuk
menghasilkan hipotesis yang signifikan dua kriteria yang harus dipenuhi oleh
sebuah teori.
Kata kunci ketiga dalam definisi
tersebut adalah asumsi. Komponen-komponen dalam sebuah teori bukan merupakan
fakta yang telah terbukti, dalam arti sudah terbukti kebenarannya. Komponen-komponen
tersebut seolah-olah dianggap sebagai kebenaran. Ini adalah langkah praktis
yang diambil agar ilmuwan bisa melakukan penelitian yang hasilnya bisa terus
digunakan untuk mengembangkan dan memperbaiki teori awal.
Keempat, peneliti menggunakan
pemikiran logika deduktif untuk merumuskan hipotesis. Prinsip-prinsip teori
harus dinyatakan dengan tepat dan konsisten secara logis untuk memudahkan para
ilmuwan menarik kesimpulan dari hipotesis yang sudah dirumuskan sebelumnya.
Hipotesis bukanlah komponen dari sebuah teori, tetapi berasal dari teori
tersebut. Ini merupakan tugas seorang ilmuwan yang imajinatif untuk memulai
dari teori umum kemudian melalui pemikiran deduktif sampai pada sebuah
hipotesis tertentu yang bisa diuji. Jika dalil-dalil teoretis umum tidak logis,
maka teori itu tidak bisa digunakan untuk merumuskan hipotesis. Lebih lanjut,
jika seorang peneliti menggunakan logika yang salah dalam menarik kesimpulan
hipotesis, maka hasil penelitian tidak ada artinya dan tidak akan memberikan kontribusi
pada proses rekonstruksi teori.
Bagian akhir dari definisi tersebut
adalah bisa diuji. Sebuah hipotesis yang tidak bisa diuji tidak akan ada
gunanya. Hipotesis memang tidak perlu segera diuji, tetapi harus menggambarkan
kemungkinan bisa diuji sehingga para ilmuwan di masa yang akan datang dapat
mengembangkan cara-cara yang diperlukan untuk mengujinya.
2.
Beberapa Konsep yang
berkaitan dengan teori
Manusia kadang-kadang
mencampuradukkan teori dengan filsafat, pemikiran, hipotesis, taksonomi.
Walaupun teori berkaitan dengan masing-masing konsep, teori tidak bisa
disamakan dengan satu pun dari konsep tersebut.
a.
Filsafat
Pertama, teori berkaitan dengan
filsafat, tetapi dalam pengertian yang lebih sempit. Filsafat artinya kecintaan
akan kebijaksanaan, dan filsuf adalah orang-orang yang mencari kebijaksanaan
melalui pemikiran dan perenungan. Filsuf bukan ilmuwan, mereka tidak melakukan
penelitian yang terkontrol untuk memperoleh kebijaksanaan. Filsafat memiliki
beberapa cabang ilmu, salah satunya adalah epistemologi atau sifat dasar
pengetahuan. Teori paling dekat kaitannya dengan epistemologi karena para
ilmuwan sering kali menggunakannya untuk mencari pengetahuan.
Teori tidak berhubungan dengan
"seharusnya" (ought) atau "sebaiknya" (should). Oleh karena
itu, sekumpulan prinsip tentang bagaimana seseorang sebaiknya menjalani hidup
tidak bisa disebut sebagai teori. Prinsip semacam itu melibatkan nilai - nilai
dan mendapat perhatian penting dalam filsafat. Walaupun teori tidak terbebas
dari nilai-nilai, tetapi teori dibangun dari bukti ilmiah yang diperoleh dari
keadaan yang relatif tidak bias. Tadi, tidak ada teori yang menyatakan mengapa
masyarakat sebaiknya membantu para tunawisma atau apa yang menyebabkan karya
seni dianggap hebat.
Filsafat berhubungan dengan apa
yang seharusnya atau apa yang sebaiknya; berbeda dengan teori. Teori
berhubungan dengan sekumpulan besar pernyataan "jika-maka" (if -
then), tetapi kelebihan atau kekurangan yang terdapat dalam pernyataan tersebut
berada di luar wilayah teori. Contohnya, sebuah teori mungkin menyatakan jika
anak-anak dibesarkan dalam kondisi di mana benar-benar tidak ada kontak dengan
manusia, maka mereka tidak akan memiliki kemampuan berbahasa manusia, tidak
memperlihatkan perilaku pengasuhan, dan sebagainya. Akan tetapi, pernyataan
tersebut sama sekali tidak mengatakan tentang moralitas dari pengasuhan semacam
itu.
b.
Pemikiran
Kedua, teori bergantung pada
pemikiran atau spekulasi, tetapi mereka lebih dari sekadar pemikiran biasa.
Mereka bukan berasal dari pikiran seorang pemikir besar yang terlepas dari
pengamatan empiris. Mereka berkaitan erat dengan data yang dikumpulkan secara
empiris dan juga dengan sains.
Apa hubungan atara teori dan sains?
Sains (science) adalah cabang ilmu yang Mengutamakan observasi dan klasifikasi
data serta pembuktian hukum-hukum umum melalui pengujian hipotesis. Teori
merupakan alat yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memberi makna dan
mengatur observasi. Teori menyediakan lahan yang subur untukmenghasilkan
hipotesis yang bisa diuji. Tanpa adanya teori yang mengatur observasi dan
menunjukkan arah penelitian, maka sains tidak akan berkembang.
Teori bukan merupakan khayalan -
khayalan tidak berguna yang dikemukakan oleh sarjana-sarjana tidak praktis yang
tidak mau berkecimpung dalam penelitian ilmiah. Sebenarnya, teori itu sendiri
cukup praktis dan penting untuk kemajuan sains. Pemikiran dan observasi empiris
adalah dua landasan penting untuk membangun sebuah teori, tetapi pemikiran
tidak boleh dikemukakan sebelum adanya observasi yang terkontrol.
c.
Hipotesis
Walaupun teori merupakan konsep
yang ruang lingkupnya lebih sempit dari filsafat, teori adalah istilah yang
maknanya lebih luas daripada hipotesis. Teori yang baik mampu menghasilkan
banyak hipotesis. Hipotesis adalah perkiraan atau prediksi ilmiah yang cukup
spesifik untuk bisa diuji validitasnya melalui metode ilmiah. Sebuah teori
masih terlalu umum untuk bisa mengarahkan dirinya menuju sebuah pembuktian,
tetapi satu teori yang komprehensif mampu menghasilkan ribuan hipotesis. Jadi,
hipotesis lebih spesifik daripada teori. Akan tetapi, jangan mencampuradukkan
hipotesis dengan teori.
Tentu saja, teori dan hipotesis
saling berkaitan erat. Dengan menggunakan pemikiran deduktif (dari umum ke
khusus), seorang peneliti dapat menarik hipotesis yang bisa diuji dari sebuah
teori yang baik kemudian menguji hipotesis tersebut. Hasil dari pengujian
ini-apakah mendukung atau membantah hipotesis-akan menjadi masukan bagi teori
tersebut. Dengan menggunakan pemikiran induktif (dari khusus ke umum), peneliti
akan memanfaatkan teori untuk menjelaskan hasil penelitian. Ketika teori
berkembang dan berubah, teori dapat menghasilkan hipotesis lain, dan ketika
hipotesis itu diuji maka hasilnya akan mengubah kembali teori tersebut.
d.
Taksonomi
Taksonomi adalah klasifikasi
berbagai hal berdasarkan hubungan kekerabatannya.Taksonomi dianggap penting
untuk perkembangan ilmu pengetahuan karena tanpa klasifikasi data maka ilmu
pengetahuan tidak akan mampu untuk berkembang. Akan tetapi, klasifikasi saja
tidak akan membuatnya menjadi teori. Namun, taksonomi dapat berkembang menjadi
teori ketika mulai menghasilkan hipotesis yang bisa diuji dan menjelaskan hasil
penelitian. Contohnya, Robert McCrae dan Paul Costa memulai penelitian mereka
dengan mengklasifikasikan manusia ke dalam lima sifat kepribadian yang menetap;
kemudian klasifikasi ini menjadi teori serta mampu menghasilkan hipotesis dan
menjelaskan hasil penelitian.
3.
Mengapa Ada Banyak Teori yang Berbeda ?
Munculnya banyak teori yang berbeda
karena sifat dasar teori memperbolehkan seorang teoretikus untuk berspekulasi
dari sudut pandang tertentu. Para teoretikus harus mampu berlaku seobjektif
mungkin ketika mengumpulkan data, tetapi keputusan mengenai data apayang
dikumpulkan dan bagaimana data diinterpretasikan adalah hak pribadi mereka.
Teori bukan merupakan hukum-hukum yang kekal. Teori dibangun, bukan dari
kenyataan yang sudah terbukti, tetapi dari asumsi -asumsi yang
diinterpretasikan oleh individu.
Semua teori merupakan cerminan dari
latar belakang penemunya, seperti pengalaman masa kecil, falsafah hidup,
hubungan interpersonal, dan cara memandang dunia. Oleh karena observasi
dipengaruhi oleh kerangka pikiran dari masing-masing pengamat, maka muncullah
banyak teori yang berbeda. Meskipun demikian, teori-teori tersebut dapat
dimanfaatkan.
Manfaat dari sebuah teori tidak
bergantung pada nilai rasionalnya atau pada kesesuaiannya dengan teori lainnya,
namun lebih bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan penelitian dan
menjelaskan data hasil penelitian serta observasi lainnya.
4.
Kepribadian Teoretikus dan Teori Kepribadian Mereka
Oleh karena teori kepribadian
berkembang dari kepribadian para pembuat teori (teoretikus), maka studi tentang
kepribadian mereka dianggap tepat. Beberapa tahun terakhir, cabang ilmu
psikologi yang disebut psikologi sains (psychology of science) telah mulai
mempelajari sifat pribadi para ilmuwan. Psikologi sains mempelajari sains dan
juga perilaku para ilmuwan; yaitu meneliti dampak psikologis seorang ilmuwan
dan karakteristik pribadinya terhadap pengembangan teori ilmiah dan
penelitiannya (Feist, 1993, 1994, 2006; Feist & Gorman, 1998; Gholson,
Shadish, Neimeyer, & Houts, 1989). Dengan kata lain, psikologi sains
mempelajari bagaimana kepribadian ilmuwan, proses kognitif, sejarah
perkembangan, dan pengalaman sosial memengaruhi bidang ilmu yang mereka geluti
dan teori yang mereka ciptakan. Beberapa peneliti (Hart, 1982; Johnson, Germer,
Efran, & Overton, 1998; Simonton, 2000; Zachar & Leong, 1992) telah
menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian memengaruhi orientasi teoretis
seseorang dan kecenderungan seseorang untuk mengarah pada sisi
"keras" atau "lunak" dari suatu disiplin ilmu.
Sebuah pemahaman teori kepribadian
bersandar pada informasi tentang latar belakang sejarah, sosial, dan psikologis
masing-masing teoretikus pada saat ia menciptakan sebuah teori. Oleh karena
kita percaya bahwa teori kepribadian menggambarkan kepribadian si teoretikus,
maka kita sudah memasukkan informasi biografi yang cukup banyak untuk setiap
teoretikus besar. Memang, perbedaan kepribadian di antara para teoretikus
menjadi penyebab utama perbedaan pandangan antara mereka yang cenderung pada
psikologi kuantitatif (pakar dalam hal perilaku, pembelajaran sosial, dan
sifat) dan mereka yang cenderung pada psikologi klinis dan kualitatif
(psikoanalis, humanis, dan eksistensialis).
Walaupun sebagian dari kepribadian
teoretikus memengaruhi teori yang dihasilkannya, tidak seharusnya hal ini
menjadi faktor penentu satu-satunya dari teori tersebut. Demikian juga, penerimaan
saudara terhadap satu teori atau teori
lainnya seharusnya tidak bergantung hanya pada nilai-nilai pribadi dan minat
saudara. Ketika menilai dan memilih sebuah teori, saudara sebaiknya mengakui
bahwa sejarah pribadi teoretikus memengaruhi teorinya, tetapi pada akhirnya
saudara sebaiknya menilai sebuah teori berdasarkan kriteria ilmiah yang tidak
bergantung pada sejarah pribadi seseorang. Beberapa pengamat (Feist, 2006;
Feist & Gorman, 1998) telah membedakan antara sains sebagai proses dan sains
sebagai produk. Proses ilmiah mungkin dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
teoretikus, tetapi manfaat akhir dari produk ilmiah harus dinilai secara
terpisah dari proses ilmiahnya.
5.
Apa yang Membuat Teori Bermanfaat ?
Sebuah teori yang bermanfaat
memiliki interaksi yang dinamis dengan data hasil penelitian. Pertama , sebuah teori melahirkan beberapa hipotesis
yang bisa diuji melalui penelitian untuk menghasilkan data penelitian.
Data-data ini dimasukkan kembali ke dalam teori sehingga mengubah bentuk teori
tersebut. Dari bentuk teori yang baru, peneliti dapat menarik hipotesis lain,
mengujinya melalui penelitian baru dan menghasilkan tambahan data, yang pada
akhirnya kembali mengubah bentuk dan memperluas teori. Siklus ini terus
berlangsung selama teori terbukti bermanfaat.
Kedua, sebuah teori yang bermanfaat
dapat mengubah data penelitian menjadi lebih dari sekadar data dan memberikan
penjelasan tentang hasil penelitian ilmiah. Hubungan antara teori dengan data
penelitian diperlihatkan dalam gambar I. Ketika sebuah teori tidak lagi mampu
menghasilkan penelitian lanjutan atau menjelaskan data penelitian yang terkait,
maka teori tersebut kehilangan manfaatnya sehingga dikesampingankan dan diganti
dengan teori lain yang lebih bermanfaat.
Selain untuk menstimulasi
penelitian dan menjelaskan data penelitian, teori yang bermanfaat harus
memperlihatkan kemungkinan untuk dikaji ulang, menyediakan panduan bagi para
praktisi untuk meneliti konsisten dan memperoleh jawaban sesederhana mungkin.
Dengan demikian teori yang
bermanfaat harus memiliki 6 kriteria :
·
Mengembangkan penelitian
·
Dapat dikaji ulang
·
Mengorganisasi pengetahuan
·
Memberi panduan pemecahan masalah
·
Konsistensi internal
·
Sederhana
a.
Mengembangkan Penelitian
Kriteria paling penting untuk menilai sebuah teori
bermanfaat atau tidak adalah dari kemampuannya menstimulasi dan mengarahkan
penelitian lebih lanjut. Tanpa adanya teori yang memadai untuk menunjukkan arah
penelitian, banyak hasil penelitian secara empiris tidak diketahui penyebabnya.
Teori yang bermanfaat akan
menstimulus dua jenis penelitian: penelitian deskriptif (desriptive research)
dan pengujian hipotesis (hypothesis testing). Penelitian deskriptif, yg dapat
memperluas teori, menitikberatkan pada pengukuran, pemberian label, dan
kateegorisasi satuan yang dipakai dalam membangun teori. Penelitian deskriptif
mempunyai hubungan simbiosis dengan teori. Di satu sisi, penelitian ini
menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun teori, di sisi lain,
penelitian ini berkembang dari teori yang dinamis dan luas. Semakin bermanfaat
suatu teori maka semakin banyak penelitian yang dihasilkan dan semakin banyak
pula jumlah penelitian deskriptifnya yang pada akhirnya semakin lengkap pula
teorinya.
Jenis penelitian yang kedua adalah pengujian
hipotesis (hypothesis testing) mengarah pada pembuktian tidak langsung dari
manfaat satu teori. Teori yang bermanfaat akan menghasilkan banyak hipotesis
yang ketika diuji maka menambah data yang akan mengubah bentuk dan memperluas
teori
Gambar
I

b.
Dapat Dikaji Ulang
Sebuah teori juga harus bisa
dinilai dari kemampuannya untuk dikonfirmasi (confirmed) atau disangkal
(disconfirmed), oleh karena itu teori harus bisa dikaji ulang (falsifiable).
Untuk bisa diulang, sebuah teori harus cukup jelas untuk mengarahkan penelitian
yang hasilnya bisa mendukung atau tidak mendukung prinsip utamanya. Jika sebuah
teori terlalu samar dan tidak jelas, maka hasil penelitian, baik positif maupun
negatif bisa diinterpretasikan sebagai hal yang mendukung teori. Akibatnya,
teori tersebut tidak bisa diulang dan tidak bermanfaat lagi. Akan
tetapi,falsifiability tidak sama dengan tidak benar (false), ini hanya berarti
bahwa hasil penelitian yang negatif akan menyangkal teori dan memaksa
teoretikusnya untuk membuang teori itu atau mengubahnya.
Teori yang falsifiable memengaruhi
hasil eksperimen. Gambar I memperlihatkan sebuah siklus yang saling menguatkan antar
teori dan penelitian, masing-masing menjadi dasar untuk lainnya. Sains
dibedakan dengan sesuatu yang bukan sains dari kemampuannya untuk menolak
gagasan yang tidak didukung bukti empiris walaupun gagasan tersebut tampak
logis dan rasional. Contohnya, Aristotle menggunakan logika dalam pernyataannya
bahwa tubuh yang ringan akan jatuh dengan kecepatan yang lebih lambat
dibandingkan dengan tubuh yang berat. Walaupun pendapatnya "masuk
akal", terdapat satu kendala yaitu, secara empiris, pendapat ini salah.
Teori yang sangat bergantung pada
perubahan alam bawah sadar yang tidak bisa diamati akan semakin sulit untuk
dibuktikan atau disangkal. Contohnya, teori Freud menyatakan bahwa banyak emosi
dan perilaku kita, yang disebabkan oleh kecenderungan alam bawah sadar, yang
berlawanan dengan perilaku yang kita perlihatkan. Misalnya, kebencian yang
tidak disadari mungkin diekspresikan sebagai cinta yang disadari, atau
ketakutan yang tidak disadari terhadap perasaan homoseksual yang terdapat dalam
dirinya sendiri mungkin akan memunculkan permusuhan yang berlebihan terhadap
kaum homoseksual. Oleh karena teori Freud memperbolehkan adanya
perubahan/transformasi pada alam bawah sadar, maka hampir tidak mungkin untuk
membuktikan atau menyangkal teori tersebut. Sebuah teori yang mampu menjelaskan
semua hal tidak akan menjelaskan apapun.
c.
Mengorganisasi Pengetahuan
Teori yang bermanfaat seharusnya
juga mampu mengorganisasi pengetahuan yang saling bertentangan. Tanpa
pengorganisasian dan kategorisasi, hasil penelitian tidak akan ada artinya dan
dibiarkan begitu saja. Kecuali data diolah menjadi kerangka pikir yang dapat
dipahami, peneliti tidak akan mempunyai arah yang jelas untuk diikuti dalam
mencari pengetahuan lebih lanjut. Mereka tidak dapat membuat pertanyaan tanpa
adanya kerangka teoretis yang mendasari informasi yang mereka peroleh. Tanpa
adanya pertanyaan, maka penelitian lebih lanjut sulit untuk dilakukan.
Teori kepribadian yang bermanfaat
hams mampu menyatukan dari apa yang sudah iiketahui tentang perilaku manusia dengan
perkembangan kepribadian. Teori ini harus mampu mengubah sebanyak mungkin
informasi menjadi kerangka pikir yang lebih bermakna. Jika teori kepribadian
tidak memberikan penjelasan yang masuk akal tentang perilaku tertentu, maka
teori tersebut menjadi tidak bermanfaat.
d.
Panduan Pemecahan Masalah
Kriteria keempat untuk teori yang bermanfaat adalah
kemampuannya untuk memandu praktisi menghadapi permasalahan sehari-hari yang
sulit. Contohnya, para orang tua, guru, manajer bisnis, dan psikoterapis sering
dihadapkan pada banyak pertanyaan di mana mereka mencoba untuk menemukan
jawabannya. Teori yang baik menyediakan petunjuk untuk memukan jawaban-jawaban
tersebut. Tanpa teori yang bermanfaat, praktisi akan terjebak dalam teknik
coba-salah (trial and error), dengan orientasi teoretis yang baik, mereka bisa
menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan.
Untuk psikoanalis Freudian dan
terapis Rogerian, jawaban atas pertanyaan yang sama akan sangat berbeda. Untuk
pertanyaan "Bagaimana aku bisa memberikan perawatan terbaik untuk pasien
ini?" terapis psikoanalisis akan menjawab dengan: Jika psikoneurosis
disebabkan oleh konflik seksual di masa kecil yang telah masuk ke alam bawah
sadar, maka cara terbaik bagi saya untuk membantu pasien ini adalah dengan
mempelajari represi-represi tersebut dan membiarkan pasien mengulang kembali
pengalaman-pengalamannya tanpa adanya konflik yang hadir. Untuk pertanyaan yang
sama, terapis Rogerian akan menjawab: Jika, untuk bisa dewasa secara psikologis
manusia membutuhkan empati, perhatian positif yang tidak bersyarat, dan
hubungan yang seimbang dengan terapis, maka cara terbaik bagi saya untuk
membantunya adalah dengan menciptakan kondisi yang membuatnya nyaman dan tidak
merasa terancam. Perhatikan bahwa kedua terapis menjawab dalam kerangka
jika-maka (if-then), walaupun kedua jawaban tersebut menyebutkan dua tindakan
yang berbeda.
Juga termasuk dalam kriteria ini
adalah bagaimana sebuah teori menstimulasi gagasan dan tindakan dalam disiplin
ilmu lainnya, seperti seni, sastra (termasuk film dan drama televisi), hukum,
sosiologi, filsafat, agama, pendidikan, administrasi bisnis, dan
psikoterapi.Sebagian besar teori yang dibahas dalam buku ini sudah memengaruhi
wilayah lain di luar psikologi. Contohnya, teari Freud telah mendorong
penelitian tentang pemulihan ingatan (recovered memories), sebuah topik yang
sangat penting bagi para pengacara. Juga, teori Carl Jung menarik minat para
ahli agama dan merebut perhatian para penulis populer, seperti Joseph Campbell
dan lainnya. Hal yang sama juga terjadi pada teori Alfred Adler, Erik Erikson,
B. F. Skinner, Abraham Maslow, Carl Rogers, Rollo May, dan teoretikus
kepribadian lainnya yang telah menarik minat dan perhatian bidang-bidang ilmu
lainnya.
e.
Konsistensi Internal
Sebuah teori yang bermanfaat tidak
perlu konsisten dengan teori lain, tetapi teori ini harus konsisten dengan
dirinya sendiri. Teori yang konsisten secara internal adalah teori yang
komponen-kamponennya memiliki kemiripan secara logis. Batasan terhadap ruang
lingkupnya ditentukan dengan hati-hati dan karena itu tidak memberikan
penjelasan di luar dari ruang lingkupnya. Teori yang memiliki konsistensi
internal juga menggunakan bahasa yang konsisten; yaitu, teori tersebut tidak
menggunakan istilah yang sama untuk dua hal berbeda atau menggunakan dua
istilah berbeda untuk konsep yang sama
Teori yang baik akan menggunakan
konsep dan istilah yang sudah didefinisikan secara operasional dan jelas.
Definisi operasional adalah definisi yang menentukan satuan dalam hal perilaku
dan peristiwa teramati yang bisa diukur. Contohnya, ekstrover bisa
didefinisikan secara operasional sebagai tiap orang yang mencapai skor
tertentu, yang sudah ditetapkan sebelumnya, dalam sebuah tes kepribadian.
f.
Sederhana(Parsimonious)
Ketika dua teari mempunyai kesamaan
dalam hal kemampuannva untuk menghasilkan penelitian, dapat disangkal memberi
makna pada data, memandu praktisi dan mempunyai konsistensi internal, ternyata
teori yang lebih sederhana lebih disukai. Ini
adalah hukum parsimony. Pada kenyataannya, tentu saja, dua teori tidak
pernah tepat sama dalam kriteria-kriteria ini, tetapi secara umum, teori yang
sederhana dan langsung pada masalah
lebih bermanfaat dari pada teori dengan Konsep yang rumit dan bahasa
yang esoteris (yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu).
Dalam membangun teori kepribadian,
sebaiknya mulai dari skala terbatas dan menghindari untuk menyamaratakan semua
perilaku manusia. Tindakan seperti ini dilakukan oleh sebagian
teoretikus.contohnya : Freud mulai dengan teori yang banyak didasarkan pada
hysterical neurosis dan setelah bertahun-tahun, secara bertahap memperluasnya
agar bisa mencakup lebih banyak aspek dari kepribadian.
6.
Penelitian Teori Kepribadian
Seperti sudah kita ketahui
sebelumnya, kriteria utama suatu teori yang bermanfaat adalah kemampuannya
menghasilkan penelitian. Kita juga mengetahui bahwa teori dan data penelitian
mempunyai hubungan berkesinambungan: teori memberi makna pada data dan data
berasal dari penelitian eksperimental yang dibuat untuk menguji hipotesis yang
berasal dari teori. Namun, tidak semua data berasal dari penelitian
eksperimental. Banyak di antaranya berasal dari observasi yang kita buat setiap
hari. Observasi artinya hanya memperhatikan sesuatu atau memberi perhatian pada
sesuatu.
Anda telah melakukan pengamatan
pada kepribadian manusia hampir sepanjang hidup Anda. Anda memperhatikan bahwa
beberapa orang suka bicara dan ramah; yang lainnya pendiam dan bersikap
hati-hati. Anda mungkin sudah memberi mereka label sebagai ekstrover atau
introver. Apakah pelabelan ini akurat? Apakah seseorang yang ekstrover sarna
seperti ekstrover lainnya? Apakah seorang ekstrover selalu banyak bicara dan
bersikap ramah? Dapatkah semua orang dikategorikan sebagai introver atau
ekstrover ?
Ketika Anda mengamati dan
mengajukan pertanyaan, Anda melakukan hal yang sarna dengan yang dilakukan para
psikolog, yaitu mengamati perilaku manusia dan mencoba mencari jawaban dari
hasil pengamatan ini. Namun, psikolog, seperti ilmuwan lainnya, mencoba untuk
sistematis sehingga prediksi mereka konsisten dan akurat.
Untuk meningkatkan kemampuan mereka
dalam memprediksi, perlunya mengembangkan teknik penilaian (assessment),
termasuk inventori kepribadian. Banyak dari penelitian menggunakan prosedur
penilaian yang beragam, yang bertujuan untuk mengukur dimensi-dimensi yang
berbeda dari kepribadian. Alat-alat pengukuran ini harus dapat diandalkan dan
valid supaya dapat digunakan. Reliabilitas alat pengukuran adalah tingkat di
mana alat ukur tersebut memberikan hasil yang konsisten.
Inventori kepribadian bisa
diandalkan tetapi kurang valid atau akurat. Validitas adalah tingkat di mana
suatu alat mengukur apa yang seharusnya diukur. Psikolog kepribadian sangat
menaruh perhatian pada dua jenis validitas-validitas konstruk dan validitas
prediktif. Validitas konstruk adalah tingkat di mana sebuah alat mengukur
beberapa konsep hipotetis. Konsep- konsep seperti extraversi, agresivitas,
kecerdasan, dan stabilitas emosi tidak mempunyai bentuk nyata; mereka adalah
konsep hipotetis yang dihubungkan dengan perilaku yang dapat diamati. Tiga
jenis validitas konstruk yang penting adalah validitas konvergen, validitas
divergen, dan validitas diskriminan. Sebuah alat pengukuran dikatakan mempunyai
validitas konvergen ketika skor pada alat tersebut memiliki korelasi yang
tinggi dengan nilai-nilai pada beragam alat pengukuran lain untuk konstruk yang
sarna. Contohnya, inventori kepribadian yang ditujukan untuk mengukur
ekstraversi harus berkorelasi dengan pengukuran ekstraversi lainnya atau
faktor-faktor lain seperti sosiabilitas dan asertivitas, yang diketahui berada
dalam satu kelompok dengan ekstraversi. Suatu inventori memiliki validitas
divergen jika berkorelasi rendah atau tidak signifikan dengan inventori lain
yang tidak mengukur konstruk tersebut.
Sebagai contoh, inventori untuk
mengukur ekstraversi tidak boleh memiliki korelasi yang tinggi dengan keinginan
sosial, stabilitas emosi, kejujuran, atau harga diri. Hal yang terakhir,
inventori memiliki validitas diskriminan jika mampu membedakan antara dua
kelompok manusia yang diketahui sudah mempunyai perbedaan. Misalnya, inventori
kepribadian yang mengukur ekstraversi harus menghasilkan skor yang lebih tinggi
bagi seseorang yang diketahui ekstrover daripada seseorang yang diketahui
introver.
Dimensi kedua dari validitas adalah
validitas prediktif, di mana suatu tes dilakukan untuk memprediksi perilaku
yang akan datang. Contoh, sebuah tes ekstraversi mempunyai validitas prediktif
bila berkorelasi dengan perilaku di masa depan, seperti merokok, berprestasi
baik dalam tes akademik, pengambilan risiko, atau kriteria independen lainnya.
Nilai akhir dari setiap alat ukur adalah
tingkat di mana alat ukur tersebut bisa memprediksi beberapa perilaku atau
kondisi di masa depan.
Pada awalnya, sebagian besar
teoretikus kepribadian tidak menggunakan inventori penilaian yang
terstandarisasi. Walaupun Freud, Adler, dan Jung mengembangkan beberapa teknik
untuk memprediksi, tidak ada satu pun dari mereka menggunakan teknik yang cukup
akurat untuk menentukan reliabilitas dan validitasnya. Akan tetapi, teori-teori
Freud, Adler dan Jung telah menghasilkan sejumlah inventori kepribadian yang
terstandarisasi sejak para peneliti dan ahli klinis mencoba untuk mengukur
unit-unit kepribadian yang dikemukakan oleh para teoretikus tersebut. Kemudian,
teoretikus kepribadian yang lain, terutama Julian Rotter, Hans Eysenck dan
teoretikus Five-Factor mengembangkan dan menggunakan beberapa alat ukur
kepribadian dan sangat mengandalkan alat tersebut untuk membangun model
teoretis mereka.
SELAMAT BELAJAR DAN SEMOGA SUKSES…..
KARENA SUKSES ADALAH HAK ANDA